Menyimak Musik

Saat ini sebuah karya rekaman musik membuat saya bingung. Dalam satu sisi, musik yang memenuhi telinga dan kepala saya adalah musik sekedar musik. Lirik tidak jauh dari tema pasar yaitu percintaan dan genre musik yang saling meniru dan akhirnya membuat pendengar merasa band ini mirip dengan band itu. Hasil rekaman? Saya tidak sempat memikirkannya bahkan menyimak (Kalau sekedar mendengar sudah sering).

Sebaliknya, musik yang memang berkarakter dan memiliki attitude yang sangat jelas dan terarah. Hasil rekaman? Saya memprediksikan biasanya musik seperti ini punya idealisme dan hasilnya pun seringkali  baik.

Kadang saya cemburu dengan musik barat yang (rata-rata) memiliki objektifitas dan arah musik yang sudah sangat jelas sehingga pada akhirnya memiliki hasil rekaman yang sangat luar biasa.

Sebagai contoh, KD Lang album All You Can Eat (1995). Produser: KD Lang dan Ben Mink. Recording dan mix engineer Mar Ramaer. Mastering Bob Ludwig.

KD Lang - All You Can Eat

Secara garis besar, terdengar sangat jelas kalau album ini lebih eksperimental dibandingkan album-album lain KD Lang. Memang tidak ada lagu hits semacam ‘Save Me’ dan ‘Constant Craving’. Nuansa dan instrumentasinya terdengar sangat sendu, gelap tapi saya tidak bosan mendengarnya berulang kali. Tidak banyak instrumentasi yang presence dalam spectrum frequency kecuali cymbals dan hihat saja. Menurut saya album ini terdengar sangat konsisten dalam hal mixing. Snare yang sangat tight, detail low frequency yang baik dan bisa dikatakan hampir tidak ada ringing/resonansi. Begitu pula dengan kick drums. Sense of air juga terdengar dengan baik sehingga akurasi imaging benar-benar terlukis dengan akurat.

Sting - The Soul Cages

Contoh lain yang luar biasa misalnya Sting album The Soul Cages (1990). Produser: Hugh Padgham & Sting. Mix engineer Hugh Padgham. Mastering Bob Ludwig. Saya sangat terkesan dengan keberanian membuat album semendung ini. Saya bisa merasakan nuansanya. Permainan reverb dan detail wide stereo imaging dalam lagu ‘When The Angels Fall’ benar-benar membawa saya ke atmosfer yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya di album Sting lainnya. Singkat cerita, sempurna!

GIGI - Salam Kedelapan

Dari dalam negeri, saya suka dengan konsistensi GIGI. Inilah salah satu musik yang saya sebutkan tadi di atas. Berkarakter dan punya tujuan yang sangat jelas. Kita bisa simak dari album-album GIGI antara lain Salam Kedelapan (2003). Produser GIGI. Mix engineer Stephen Santoso. Mastering Hok Laij. Karakter tone instrument memang sudah sangat terbentuk sehingga sangat mendukung untuk menghasilkan mixing yang baik. Loud enough but not squashing in term of loudness. Transparent. Compression yang masih bisa saya nikmati.

Peran Pihak Luar

Menghasilkan musik yang baik tidak lepas dari peran pihak luar selain musisi itu sendiri. Produser, mix engineer dan mastering engineer.  Yang membuat saya miris adalah begitu membludaknya band-band karbitan seperti kapal selam (muncul dan tenggelam) yang akhir-akhir ini hadir dengan luar biasa banyaknya. Tidak bisa dipungkiri, teknologi sangat berpengaruh dalam hal ini. Teknologi memudahkan kita untuk membuat musik. Bahkan membuat album pun bisa dilakukan di kamar sendiri. Bermodalkan laptop, gitar akustik, microphone seadanya, software seperti Cubase/Nuendo/Logic bahkan Garage Band, sudah sangat cukup hanya untuk sekedar membuat album sederhana. Bukankah ini yang akhir-akhir ini mendominasi dunia musik khususnya di Indonesia?

Masyarakat umum menyebutnya dengan Indie atau bukan mainstream. Bahkan dengan ‘easily making music’, memicu lahirnya minor label baru. Mencoba memanfaatkan moment ledakan band atau artist baru, minor label memproduksi, merekayasa second layer dari band papan atas untuk target pasar tertentu. Tujuannya sudah jelas, business only. Uang.

Saya sama sekali tidak berhak untuk melarang orang mencari peluang bisnis dalam bidang musik. Justru musik industri itu ada karena musik itu sendiri membutuhkan partner untuk bisa berkembang, bukan? Tidak jauh berbeda dengan televisi yang hidup dari iklan, bagaimana musik itu bisa hidup kalau tidak ada penjualan? Terlepas dari penjualan album rekaman di Amerika yang ternyata sudah menurun sangat tajam dalam dekade terakhir ini (Hefflinger, 2008) dari 785 milyar di tahun 2000 dan menjadi 535 milyar units di tahun 2008, major dan minor label berusaha mencari alternatif baru dalam menjual musik. Tercetuslah Pandora, MySpace, iTunes yang secara revolusioner mengubah cara pandang kita tentang music marketing and distribution.

Kualitas Musik Rekaman?

Pertanyaannya adalah siapakah yang menjaga kualitas dari musik itu sendiri? Sejak musik dapat dijual dengan cara hanya didengarkan saja tanpa harus membeli, kita sudah bisa menduga jika kualitasnya akan terbentur dengan format dan ukuran file. Mp3 akan menjadi format umum dengan resiko mengurangi spectrum frequency. Dengan bahasa sederhana, detail musik ada yang hilang.

Semakin banyak kepentingan dan campur tangan beberapa pihak bukan berarti musik menjadi semakin buruk. Attitude dan clear objectives yang akan memelihara dan mengembangkan musik itu sendiri. Trevor Horn ( Seal, YES, Simple Minds, Pet Shop Boys), Phil Ramone (James Taylor, Aretha Franklin, George Michael), Brian Eno (U2, Coldplay, David Bowie, Talking Heads, Devo) adalah sebagian dari produser musik yang berkomitmen tinggi, yang sangat berperan penting dalam menyajikan musik, dealing with managers, record labels, aspek komersil & bisnis, musisi pendukung, teknologi musik bahkan sampai hasil mixing dan mastering. Apakah kita, musisi, recording & mix engineer, sound designer, produser, sudah menjadi bagian dari good attitude dan clear objectives?

Saya coba persempit tujuannya dari perspektif sound. Good attitude dan clear objective yang saya maksud dalam hal ini adalah dari sisi sound quality dari produksi musik atau disebut judging quality dari musik dan hasil rekaman. Critical listening sangat diperlukan dalam menyimak musik. Dengan kata lain diperlukan pengetahuan sebagai dasar beropini dan menganalisa musik rekaman sehingga kita pun mempunyai kontribusi positif untuk perkembangan musik.

Naik Kelas

Kita sebagai penikmat musik janganlah sekedar menikmati musik sebagai hiburan tetapi juga harus mulai belajar mempelajari apa yang kita simak, dengar. Selanjutnya kita sudah berada dalam tahapan yang sungguh berbeda daripada hanya sekedar menjadi seorang pengkonsumsi musik saja. Saya yakin kita belajar memasuki area baru dalam menikmati musik, yaitu menyimak musik.

Listen to music is different from hearing music.

Jack Simanjuntak

Support readings:

Metallica: Stop The Loudness War

http://mastering-media.blogspot.com/2008/09/metallica-death-magnetic-stop-loudness.html

iTunes, iPod Sound Quality

http://tweakhound.com/itunes/fandq.htm

Sound Quality Test

http://ipod.about.com/od/introductiontoitunes/a/sound_qual_test.htm

Discussion: iTunes Sound Quality

http://discussions.apple.com/thread.jspa?threadID=2194975

Leave a comment