Salah satu alat musik tradisional yang dikaji pada disertasi saya adalah alat musik bambu celempung. Celempung adalah salah satu dari sekitar 20 alat musik bambu kuno yang berasal dari Jawa Barat. Dapat dikatakan hampir punah.
Bapak Endang Sugriwa atau yang lebih dikenal dengan nama Abah Olot, seorang pembuat alat musik bambu di Desa Cimanggung, Parakan Muncang, di kabupaten Bandung mempopulerkan kembali alat musik warisan nenek moyang ini. Abah Olot meneruskan warisan ayahnya, Abah Entang untuk membuat karinding, celempung, celempung renteng, kokol, dll. Sekitar tahun 2008, alat musik karinding kembali populer dan diikuti oleh beberapa instrumen pengiring lainnya.


Saya sendiri sudah pernah mengunjungi tempat Abah Olot bekerja di Desa Cimanggung, diantarkan oleh Pak Iyon Supiyono dari ISBI Bandung, untuk melakukan wawancara dan mengamati cara membuat alat-alat musik bambu tersebut pada bulan Oktober 2014.

Pada akhir bulan September 2015, paper penelitian saya mengenai karakteristik akustik spektral celempung diterima untuk dipresentasikan secara oral pada Galpin Society Conference Internasional di University of Cambridge, UK. Konferensi ini berlangsung mulai dari tanggal 26-30 September 2015. Galpin Society yang terbentuk pada tahun 1946, adalah sebuah perkumpulan, komunitas, grup, yang meneliti tentang sains, sejarah alat musik, dan pengembangannya. Secara reguler mengeluarkan publikasi ilmiah, jurnal bekerja sama dengan American Musical Instrument Society.



Konferensi ini diikuti oleh sekitar 100 peneliti, sejarawan musik, antara lain dari University of Oxford,University of Cambridge, University of Edinburgh,University of Bologna, Brussels Royal, London Metropolitan University, University of Manchester, Royal College of Music, D’Addario & co, Cardiff University, Royal Conservatoire of Scotland. Saya sendiri adalah satu-satunya wakil dari asia dan merupakan orang Indonesia pertama yang mengikuti konferensi Galpin ini.
Setiap hari ada sekitar 14 presentasi oral yang membahas berbagai macam topik antara lain mengenai organ, harpsichord, instrumen tradisional dan kebudayaan: Ocarina, aspek akustik Bassoon, organologi, gitar, recorder, akustik dari biola, dll.
Saya dijadwalkan untuk presentasi pada hari ke 3. Diberikan waktu sekitar 20 menit presentasi dan 7 menit tanya jawab. Presentasi berjalan dengan lancar dan mendapatkan respon yang baik dari peserta konferensi. Ada 3 pertanyaan menyangkut hal tuning system, komponen frekuensi celempung, dan karakteristik bambu.


Momen yang sangat penting pada saat konferensi seperti ini adalah coffee break karena saya dapat berkenalan dengan peneliti, ahli musik, delegasi yang biasanya ‘murah’ untuk berbagi pengalaman dan tentunya memberikan masukan untuk riset saya.
Saya sangat bersyukur atas anugrah dan kesempatan yang diperoleh sehingga bisa ikut pada Galpin Conference yang sangat memperkaya wawasan berpikir saya. Barat yang sudah terlebih dahulu bergerak pada ranah riset benar-benar luar biasa dalam melakukan kajian musik, sehingga mereka saat ini sudah berada dilapisan yang mengejutkan saya dengan topik-topik yang sangat spesifik, dan perspektif yang sangat menarik.
Sepanjang konferensi saya tidak berhenti menuliskan ide pemikiran yang muncul sambil mendengarkan presentasi. Semangat ini menginspirasi saya untuk terus melakukan penelitian dan pengembangan pada area keilmuan yang saya tekuni sehingga nilai-nilai adiluhung kebudayaan bangsa Indonesia dapat terus digali dan dilestarikan.