Tulisan pengantar untuk Salon Vol.2: A Dialogue In Collision, Mei 2016

Bunyi dan Ruang

~ Art is a lie that makes us realize the truth (Pablo Picasso)~

Mengingat kembali sekitar 22 tahun lampau, saya menggeluti gitar dan bereksperimen menggunakan barisan pedal efek sehingga membuat saya jatuh cinta pada bunyi (sound). Awalnya saya memainkan musik dan menikmatinya. Selanjutnya saya lebih fokus dalam menyimak bunyi sebagai unsur paling substansif dari musik. Ada kepuasan yang lebih ketika mengolah, mencerap, dan mempresentasikan bunyi, terbentuk rasa yang sulit saya jelaskan keindahannya. Inilah titik tolak saya melanjutkan studi S2 di Australia pada tahun 2000.

Manusia menyimak bunyi melalui beberapa domain mulai dari domain fisis yaitu akustik, psikoakustik, dan mental (kognisi). Akustik adalah sebuah domain mengkaji bunyi sebagai fenomena fisis secara umum, dalam konteks ini adalah arsitektural akustik dan musik akustik. Barat-sebagai titik berkembangnya keilmuan akustik-mencatat dalam sejarah bahwa perkembangan musik memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan dengan ruang sebagai lingkungan (environment). Hutchinson (1954) menceritakan bagaimana komposer menyadari dampak dari ruang terhadap musik yang mereka tampilkan dan mereka dengan sengaja mengadaptasikan musik terhadap lingkungannya. Karya-karya Leonin dan Perotin berorientasi pada kondisi akustik Notre Dame Paris yang sangat resonan. Henry Purcell membedakan karya-karyanya untuk Westminster Abbey dan Chapel Royal. Era romantik yang bercirikan ekspresi personal dipengaruhi oleh lingkungan akustik dengan waktu dengung yang besar yaitu 1.9-2.1 detik sehingga musiknya memiliki fullness of tone yang tinggi dan definisi yang rendah.

The art of sound and the science of sound tidak dapat dipisahkan dalam memahami pengalaman bunyi (dan musik) dalam sebuah ruangan khususnya. Akustik sebagai the science of sound berada pada domain paling pokok dalam menjelaskan apa yang terjadi pada domain psikoakustik dimana kita mengenal pitch, timbre, spaciousness, clarity, warmth, blend, texture, dll. Selanjutnya pada domain kognitif, kita memahami tonality, sistem scale, organisasi melodi, dll. Yang terakhir, pada domain mental, sosial & kultur, kita mengenal nilai estetika, referensi, dan makna. Dari penjelasan Hutchinson di atas, jelas terlihat bahwa ruang sangat mempengaruhi ranah subjektif penikmat seni bunyi dan mempengaruhi pula senimannya dalam mengolah bunyi.

Inilah titik tolak saya melanjutkan studi S3 sebagai daya upaya merangkul dunia seni dan sains dari bunyi, bidang yang saya geluti sejak lama – dan saya (masih) kecanduan menikmati rasanya bunyi. Setidaknya hari ini saya bisa lebih menyelami dari perspektif musik akustik mengapa sebuah bunyi memiliki aura tersendiri bagi seniman, musisi dan pendengarnya. As soon as i hear a sound (red:acoustics), it always suggests a mood to me kata Brian Eno.

Bandung, 16 Mei 2016

 

13096009_10209071328331569_4686420768680964169_n.jpg

 

Leave a comment