Tidak ada yang abadi. Lama berjalan dan harus terhenti. Tak maksudku untuk seperti ini. Mungkin karena dahsyatnya badai sore itu. Kutunggu waktumu untuk lelah dan tersentuh. Bukan reda yang tiba tapi beringas, dingin, dan haus darah menjadi hawa. Siapa sanggup memukul bebal? Air gunung sudah kukecap dan kuberikan padanya. Kuperlihatkan dan kaurasakan tajamnya pedang. Tapi kau adalah kubur dan tak bernyawa. Siapakah dirimu? Apakah kau sanggup jauh berjalan? Waktuku masih ada. Tak sudi kumenang melawan bebal. Tidak ada garis yang tidak terhubung. Dia menyala dan terang. Ya menyala dan terang. Mungkin bukan musim untuk menanam, dan abadi menolakmu. Ada siapa di balik siapa. Pengertian sudah lama tiba di ujung sana. Tunggu aku. Sebentar lagi aku tiba.
